Kamis, 29 Januari 2015

UAS Filsafat Ilmu Komunikasi dan Logika


Nama : Yanthi
NIM : 201452160
Sesi : 10


HUBUNGAN TIDUR DENGAN KULIT KUSAM


A.  LATAR BELAKANG
Tidur adalah proses aktif yang melingkupi 1/3 waktu hidup manusia. Sayangnya hanya sedikit penelitian yang membahas hubungan kesehatan tidur dengan kecantikan kulit. Padahal, kita sudah lama mendengar tentang beauty sleep. Ya, artinya tidur dapat mempercantik kulit seseorang. (Dr. Andreas Prasadja 2013)      
Faktanya, ketika kita kekurangan tidur, kulit tampak kusam tak bercahaya. Ini disebabkan oleh meningkatnya hormon stres hingga meningkatkan peradangan/inflamasi pada kulit yang tentu buruk akibatnya pada kualitas kulit.

B.  MASALAH

Adakah hubungan antara tidur dengan kulit kusam ?


C.   KERANGKA TEORI

1.    Pengertian Tidur

Menurut Guyton & Hall (1997), Tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana seseorang masih dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsangan lainnya.

Menurut Potter & Perry (2005), Tidur merupakan  proses fisiologi yang bersiklus bergantian dengan periode yang lebih lama dari keterjagaan.

Tidur merupakan kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh stimulasi atau sensorik yang sesuai (Guyton dalam Aziz Alimun H) atau juga dapat dikatakan sebagai keadaan tidak sadarkan diri yang relatif,bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih merupakan suatu siklus yang berulang, dengan ciri adanya aktifitas yang minim , memiliki kesadaran yang bervariasi terhadap perubahan fisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap rangsangan dari luar.

Kesimpuan : Tidur adalah suatu keadaan relative tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badanlah yang berbeda.

( Sumber ; http://www.e-jurnal.com/2013/12/pengertian-tidur-menurut-para-ahli.html?m=1 )


1.1.    Faktor-faktor yang mempengaruhi Tidur

              Kualitas tidur dipengaruhi beberapa faktor, kualitas tersebut dapat menunjukan adanya                   kemampuan seseorang untuk tidur dan memperoleh jumlah istirahat sesuai dengan                               kebutuhannya.    
          
             Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur antara lain adalah :

-       Penyakit

-       Kelelahan

-       Stres

-       Obat

-       Nutrisi

-       Lingkungan


2.     Pengertian Kulit Kusam

Kulit kusam adalah Kulit yang terkeatinisasi, yang dimaksud dengan kulit terkeatinisasi adalah ketika sel-sel kulit mati menumpuk dan menutupi kulit baru, yang menyebabkan kulit kusam. Kulit kusam terjadi saat kulit memiliki kandungan minyak di bawah normal. Akibatnya, kulit kita terlihat lebih gelap dan kering.

( Sumber ; http://kamuskesehatan.com/arti/kulit-terkeratinisasi/ )



         2.1.  Faktor-Faktor yang menyebab Kulit Kusam

Berikut ini adalah faktor penyebab umum dari kulit wajah yang kusam, adalah sebagai berikut:

-       Stress
-       Diet yang tidak sehat
-       Kurang tidur
-       Efek dari sinar ultraviolet
-       Kurangnya waktu istirahat dan pola tidur yang tidak teratur
-       Suka minum alkohol
-       Merokok
-       Efek samping negatif dari penggunaan kosmetik

D.  KERANGKA BERFIKIR

Tidur yang cukup sangat mempengaruhi pada kesehatan kulit. Jika seseorang kurang tidur maka tubuh akan melepaskan lebih banyak hormon stres atau kortisol. Dalam jumlah yang berlebihan, kortisol dapat memecah kolagen kulit, atau protein yang membuat kulit tetap halus dan elastis. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan kulit kusam, garis-garis halus pada wajah dan lingkaran hitam di bawah mata. Contohnya orang mengalami kulit pucat dan mata bengkak setelah beberapa malam kurang tidur.


                                  
E.   HIPOTESIS

      
      Tidur dan Kulit Kusam keduanya ternyata saling berhubungan erat. Gangguan tidur         menurunkan kualitas kulit, bahkan memperburuk penyakit kulit, sementara penyakit kulit sendiri dapat mengganggu kualitas tidur. Kurang tidur akan memperburuk kondisi kulit. Begitu kita kekurangan tidur, sel-sel inflamasi dalam tubuh akan meningkat. Tandanya, ku;it menjadi kusam, jerawat bermunculan, kulit jadi sensitif, reaksi alergi kulit memburuk dan iritasi pada kulit pun jadi semakin parah. Semakin kurang tidur, semakin banyak kita membutuhkan produk-produk perawatan kulit.


Kurang tidur juga akan merusak struktur kecantikan alami kulit. Sel-sel inflamasi yang meningkat kadarnya akan merusak asam hialuronat dan kolagen. Keduanya  adalah bahan yang membuat kulit kenyal dan bercahaya.
Gangguan pada tidur, akan membuat penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sistem imun kita jadi semakin buruk. Penyakit-penyakit kulit seperti psoriasis dan eksim (eczema) akan kambuh saat mengalami kekurangan tidur.




DAFTAR PUSTAKA


http://health.kompas.com/read/2013/04/23/08414217/Tidur.dan.Kecantikan.Kulit..Apa.Kaitannya

http://www.e-jurnal.com/2013/12/pengertian-tidur-menurut-para-ahli.html?m=1

http://kamuskesehatan.com/arti/kulit-terkeratinisasi/































Senin, 19 Januari 2015

Statistika

Yanthi 201452160


STATISTIKA


            Konsep satatistika sering dikaitkan dengan distribusi variable yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu. Abraham Demoivre (1667-1754) mengembangkan teori galat atau keliruan (theory of error). Pada tahun 1757 Thomas Simpson menyimpulkan bahwa terdapat suatu distribusi yang berlanjut (continuous distribution) dari suatu variable dalam suatu frekuensi yang cukup banyak. Pierre Simon de Laplace (1749-1827) mengembangkan konsep Demoivre dan Simpson ini lebih lanjut dan menemukan distribusi normal; sebuah konsep yang mungkin paling umum dan paling banyak digunakan dalam analisis statistika di samping teori peluang. Distribusi lain, yang tidak berupa kurva normal, kemudian ditemukan Francis Galton (1822-1911), dan Karl Pearson  (1857-1936)
            Statistika yang relatif sangat mudah dibandingkan dengan matematika, berkembang dengan sangat cepat terutama dalam dasawarsa lima puluh tahun belakangna ini. Penelitian ilmiah, baik yang berupa survai maupun eksperimen, dilakukan dengan lebih cermat dan teliti mempergunakan teknik-teknik statistika yang diperkembangkan sesuai dengan kebutuhan.


Statistik dan Cara Berpikir Induktif

            Ilmu secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua prnyataan ilmiah adalah  bersifat faktual, dimaana konsekuensinya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan pancaindra, maupun dengan mempergunakan alat-alat yang membantu pancaindra tersebut.pengujian secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya.
            Logika deduktif berpaling kepada matematika sebagai sarana penalaran penarikan kesimpulan, sedangkan logika induktif  berpaling pada statistika. Statistika merupakan pegetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.
            Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik. Statistik juga memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kausalita antara dua faktor atau lebih bersifat kebetulan atau memang benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris. Statistik  berfungsi meningkatkan ketelitian pengamatan kita dalam menarik kesimpulan dengan jalan menghindarkan hubungan  semu yang bersifat kebetulan.
            Secara hakiki statistika mempunyai kedudukan yang sama dlam penarikan kesimpulan induktif seperti matematika dalam penarikan kesimpulan secara deduktif. Demikan juga penarikan kesimpulan deduktif dan induktif keduanya mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dalam penelaahan keilmuan.


Karakter Berpikir Induktif

            Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan secara induktif berdasarkan peluang tersebut. Dasar dari teori statistika adalah teori peluang. Teori peluang merupakan cabang dari matematika, sedangkan statistika sendiri merupakan disiplin tersendiri. Menurut bidang pengkajiannya statistika dapat kita bedakan sebagai statistika teoretis dan statiska terapan. Statistika teoretis merupakan pengetahuan yang mengkaji dasar-dasar teori statistika,dimulai  dari teori penarikan contoh : distribusi, penaksiran, dan peluang. Sedangkan statistika terapan merupakan penggunaan statistika teoretis yang disesuaikan dngan bidang tempat penerapannya.            
            Penguasaan statistika mutlak diperlukan untuk dapat berpikir ilmiah dengan sah. Berpikir logis secara deduktif sering sekali dikacaukan dengan berpikir logis secara induktif. Kekacauan logika inilah yang menyebabkan kurang berkembangnya ilmu di negara kita. Untuk mempercepat perkembangan kegiatan keilmuan di negara kita, maka penguasaan berpikir induktif dengan statistika sebagai alat berpikirnya harus mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh.
            Statistika harus mendapat tempat yang sejajar dengan matematika agar keseimbangan berpikir deduktif dan induktif yang merupakan ciri dari berpikir ilmiah dapat dilakukan dengan baik. Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah maka statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan